lega rasanya setelah sampai di ujung tangga gankway, setelah hampir terjatuh untung ada dua orang yang membantu membawakan tas koper kami.
“Orang kitanya ada berapa” Tanya Indra setelah menarik nafas dalam-dalam,seraya menyodorkan tangan pada salah seorang dari mereka yang berambut agak panjang namun terurus.Orang itupun menjabat tangan Indra penuh suka cita karena kedatangan crew yang sebangsa
“Endang, dan ini bang Pitter dia pendobrak pertama di kapal ini”,katanya mengenalkan satu orang yang sedang memegangi tas ku.
” Saya Henry, Oya orang kita sekarang jadi sembilan orang” Tukasnya. Lalu keduanya menunjukan jalan masuk setelah menaikan kembali tangga gankway.
“lagi jaga ya pak?” tanyaku penuh hormat sambil berusaha mengangkat koper.
” Iya kalo lagi engker ada yang jaga di sini, ayo silakan lewat tangga belakang aja soalnya kalo lewat sana harus berputar”.Dengan susah payah ku panjat tangga dan sekilas di ujung tangga ku mencium khas bau dapur, lalu setelah melewati tangga kedua terlihat ada dua orang sedang mengepulkan asap rokok sambil duduk di kursi panjang, mereka tersentak atas kedatangan kami sepertinya mereka tidak melihat kami ketika naik gankway, lalu ku sapa dan menyodorkan tangan untuk bersalaman.Keduanya bernama Arif dan Mamo mereka adalah Oiler dan yang satunya AB. Arif berasal dari Brebes dan Mamo dari logatnya aku sudah bisa menebak ia berasal dari Tegal.
“Aduh dimana ya? Ya udah di Salon aja dulu nanti saya kasih tau Chief Officer dulu”. Kata Endang dengan logat sunda yang kental.belum dia melangkahkan kaki, Indra memotong “Anterin ke kamar Captain aja biar kami ketemu Captain dulu”.
“oh.. begitu. Ya udah mari saya tunjukan”, jawabnya. Kami bertigapun bergegas menuju kamar captain. Kamar Captain terletak di lantai lima bersebelahan dengan kamar Third Officer.
“Kayaknya Captain di Bright” kata Endang setelah kami mendengar suara orang berincang-bincang memang sumber suara dari atas. Dari suaranya ku tau pasti orangnya sudah berumur.Lalu kamipun naik satu tangga lagi dan disana kulihat Anjungan dengan segala kelengkapannya.
“New crew kah, Ok give me your document” Kata seseorang yang agak membungkuk memakai wear park putih, dengan mata agak sipit sambil sibuk membuka-buka sebuah buku ditangannya. Akupun membuka tas dan menyerahkan sebuah amplop besar kepadanya, begitupun dengan Indra iapun menyerahkan sebuah amplop yang berwarna sama dengan punyaku.
“Who are you?” dia bertanya pada Indra.
Indra menjawab “Third Officer, and this from my agent for Captain.” Sambil menyerahkan satu amplop lagi namun kali ini amplop putih seperti amplop surat dengan logo dan alamat agent yang ia maksud.
“Ok” jawabnya singkat.
Dan kemudian iapun melirik kepadaku sambil tetap sibuk membaca buku ditangannya sesekali mengotak-atik komputer di atas meja sekilas ku lihat ia sedang menginstal Print. Dalam hatiku berkata sepertinya orang ini kurang bisa bahasa inggris sehingga menginstal aja sambil membaca buku panduannya.
”And you?” tanyanya
“me Sam Ki Sa” jawabku dengan bahasa dan logat Korea yang artinya Third Engineer. Kulihat ia kaget dengan jawabanku dengan bahasa negaranya iapun menutup buku di tangannya dan menyimpannya di samping komputer lalu menatapku heran.
“Oh you can speak Korean?” tanyanya.
“ Ye cokoman yo” jawabku sekali lagi dengan bahasa korea yang artinya mengiyakan. Iapun mengangguk-angguk
“ Oh arase” katanya berulang-ulang.
Lalu ia menyuruh Endang menunjukan kamar kami untuk beristirahat. Kemudian kamipun beranjak dari ruang sempit itu,yang belakangan ku tahu itu adalah Radio room yang terletak di belakang Bright dan di sebrangnya terdapat Pilot room yang di dalamya terdapat tempat tidur,toilet kecil sebuah lemari dan meja kecil, terdapat pula sebuah komputer desktop diatas meja.
Kami duduk dikursi yang tak lazim ditemukan dimanapun, kursinya besar dan panjang di tiap sisi ruangan, kursi yang menghadap kesebuah Televisi 21” ukurannya lebih besar dengan warna covernya yang gelap menambah heran orang yang baru melihatnya. Didepan kursi tersebut ada meja besar seukurang meja bilyard di sisi kiri dekat pintu masuk ada lemari dengan banyak pintu. Mungkin ini yang tadi Endang bilang Salon, aku pun menganbil sebuah selimut dan bantal yang ada di sudut salah satu kursi dan langsung ku rebahkan badan yang terasa cape seusai manjat tangga demi tangga tadi, selimbut pun ku kibaskan agar menutup semua kaki sampai ke badanku yang terasa dingin, memang suhu saat itu sangat dingin dan tentu saja tubuhku kaget setelah terbiasa dengan suhu di Jakarta yang panas. Setelah beberapa saat tak kudengar lagi suara obrolan Indra yang merasa aneh melihat kondisi kapal yang berbeda dengan kapal sebelumnya, mungkin diapun kelelahan dan tertidur, sedangkan aku tak bisa memejamkan mata meskipun badan lelah dan tulang terasa ngilu di terpa angin dari pendingin ruangan. Aku terus larut dalam lamunan yang tak terarah, terkadang aku merasa ada yang kurang atau ada yang salah dan akupun terus berusaha berfikir keras mengingat apa yana kurang. Hatikupun terus bertanya tanya mungkin ada yang tertinggal, dan akupun mulai teringat kalau aku ketinggalan obat sakit gigi di Jakarta, padahal biasanya setiap aku berangkat berlayar obat itu selalu menyertaiku untuk persiapan, karena bagiku sakit gigi lebih sakit dari sakit apapun bahkan lebih sakit dari sakit hati seperti lagu dangdut yang terkenal di tanah air yang paling dibenci oleh ayahku. Sesaat aku merasa lega bahwa yang kurasa ada yang kurang hanya ketinggalan obat itu saja yang mungkin di kapalpun ada, tetapi setelah itu aku masih merasakan ada yang mengganjal fikiranku.
“Ya Alloh, aku belum sholat” gumamku sedikit berteriak sehingga ku lihat Indra terkaget dan mengubah posisi tidurnya jadi menghadap dinding dan membelakangiku yang terus beristighfar. Kemudian akupun membuka tasku dan mengambil sebuah pembersih wajah, fikirku aku akan berwudlu sekalian membersihkan wajah karena jika semalam saja aku lupa cuci muka maka ketika bangun pagi wajahku tersa gatal pertanda akan tumbuh jerawat.
Tidak memakan waktu lama buatku untuk menemukan sebuah toilet karena di setiap kapal sama yang mana di setiap lantai akan ada toilet dan posisinyapun tidak jauh berbeda lagi pula pasti ada tulisan atau lambang petunjuk. Didalam toilet yang berukuran tidak besar itu ku berwudlu. Meskipun suhu air sangat dingin sehingga membuat aku hampir menjerit di awal ku mencuci tangan tapi aku tetap berusaha untuk khusuk. Selesai berwudlu aku kembali ke ruangan tempat aku istirahat tadi lalu ku buka koperku dan mengambil sarung serta sajadah yang telah di siapkan oleh kakaku ketika aku hendak berangkat. Masih terngiang di ingatanku kakaku berkata : “Sarungnya jangan yang itu dong yang bagusan sedikit kenapa?,kan ada yang baru” ketika aku akan memasukan sarung yang biasa ku pakai sholat jumat di rumah. Kulihat jam menunjukan pukul tiga lalu ku bentangkan sajadah menghadap ke depan atau ke arah haluan yang memang posisi ruangannya memungkinkan untuk ku melakukan solat. Sejenak ku ingat ayahku berkata bahwa kiblatnya sholat kemana aja nggak masyalah yang penting niat, aku juga masih ingat ketika di sekolah dasar dulu guru agamaku mengajarkanku cara sholat diatas kendaraan dalam perjalan hendaknya kita menghadap ke arah kendaraan melaju atau kedepan.
Selesai sholat Isya empat rokaat aku kembali bersujud meminta maaf kepada Alloh atas kelalaianku meninggalkan sholat ketika di pesawat, padahal aku telah berjanji tak akan pernah meninggalkan solat jika aku berangkat berlayar lagi sebagai tanda syukurku padaNya, apa lagi aku berniat berlayar tahun ini sebagian gajiku untuk ongkos Ayah dan Ibuku berangkat Haji, aku tak mau jika uang yang dipakai mereka berhaji ternodai oleh kekhilafanku mengerjakan apa yang tak di sukai Alloh. Aku tak ingin ketika di tanah suci nanti orang tuaku mengalami hal-hal aneh seperti yang banyak di ceritakan oleh orang orang pulang haji, diantara mereka ada yang dilangkahi orang tinggi besar, ada yang di titipin bayi bahkan ada yang terseret seret oleh jemaah lain. “Ya Alloh mudah-mudahan Engkau memudahkan Ayah dan Ibuku nanti ketika menjadi tamumu, dan mudahkanlah hamba untuk mengabulkan impian mereka menjadi tamuMu”.
Akupun bangun dari sujudku dan kembali berdo’a seperti biasa berdo’a selepas Sholat. Alhamdulillah akupun menjadi tenang fikirankupun tak melayang layang seperti tadi, kantukpun mulai hinggap dan akupun kembali ke tempat tadi aku membaringkan tubuh setelah menutup resleting koperku kembali.
“yah, wei igo sleep here” teriak salah seorang crew asal Korea yang berperawakan sedikit kekar dengan rambut beruban dengan nada keras kepada seorang Crew memakai wear park orange sudah kumel yang kebetulan lewat di depan ruangan yang kami tempati dan berpapasan dengan orang yang berteriak tadi. Kulirik jam dinding menunjukan jam empat pagi.
“I don’t know” jawab orang berwear park orange itu. Belakangan aku tahu orang Korea yang berteriak itu ternyata Chief Officer yang hendak jaga di anjungan, dan orang yang memakai wearpark orange itu adalah salah satu AB di kapal ini namanya Yudi dia berasal dari Manado Sulawesi Utara.
“Speaking tidur pindah hera, sana Visitor room” tambah Chief Officer masih dengan nada keras dengan bahasa campuran bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan bahasa mKorea.
Tak lama kudengar suara langkah kaki memasuki ruangan yang kami tempati akupun bangun dan tersenyum padanya, ternyata ia orang yang sekilas kulihat tadi berbicara dengan Chief Officer. Akupun menyodorkan tangan untuk bersalaman
Dan kamipun berkenalan setelah itu ia mempersilahkan kami untuk pindah ke tempat tidur tamu seperti yang di perintahkan Chief officer padanya tadi. Kubangunkan Indra untuk pindah, dengan berat ia mengankat tubuh dan dengan langkah lunglai iapun mengikutiku ke ruangan yang Yudi tunjukan. Akupun tertidur pulas di atas kasur yang agak keras, setelah mengucapkan terima kasih pada Yudi. Sedangkan Indra tidur di atas kursi yang berukuran sama dengan kursi di ruangan tadi.
“ Tok…tok…tok” suara pintu ada yang mengetuk, tak lama daun pintu bergerak dan pintu terbuka perlahan.
“Pamoko yo” sahut seorang pria dengan mata sipit rambut beruban dan bibir agak kedepan melebihi hidungnya yang mancung.
Ia mengenakan kaos hitam sedangkan celana kain warna abu abunya tertutup celemek berwarna coklat, sepertinya dia adalah koki dikapal, ia memberitahukan bahwa sudah waktunya makan, meskipun dengan bahasa korea tetapi kata itu sudah familiar di telingaku. Ku lihat jam menunjukan pukul tujuh.
“ ye.. Jurijang nim, kamsah imnida” jawabku mengucapkan terima kasih telah di bangunkan sambil berdiri dan menganggukan kepala. Begitu cara orang korea bila bertemu atau mengucapkan selamat tinggal dengan menganggukan kepala seperti orang Jepang, hanya saja tidak terlalu menunduk sampai membungkuk seperti orang lanjut usia layaknya mendiang neneku ketika masih ada.
“ye..” ia menjawab dengan intonasi yang di panjangkan, ia juga membalas anggukan ku kemudian menutup kembali pintu dengan hati-hati. Begitulah di kapal jika sudah waktunya makan maka koki atau pelayan jika ada selalu memberitahukan kepada semua crew, hanya saja disetiap kapal caranya berbeda sesuai kebiasaan masing masing ada yang dengan memukil kentongan dari logam, ada yang dengan berteriak berulang-ulang, ada yang menggunakan pengeras suara apalagi jika ada crew yang bekerja di atas deck, tetapi ada pula yang hanya mengetuk pintu tiap-tiap crew tanpa berkata apapun, tentunya semua crew yang terbangun karena ketukan tinggal melihat jam di dinding dan segera mengerti isyarat ketukan tadi.
“Ya ampun… aku belum sholat subuh lagi padahal baru beberapa jam yang lalu aku memohon maaf padaNya” gumamku sambil menggaruk kepala. Lalu ku buka jendela ternyata masih gulita, sepertinya sunrise belum muncul.
“Syukurlah belum terlambat “ kataku.
“Siapa tadi Den, apa katanya? Tanya Indra yang ternyata sudah terjaga.
“kayaknya sih koki, tadi nyuruh makan”, jawabku
“Ayo bangun” tambahku sambil menepuk betis Indra yang masih males malesan.
“Ayo In, biar kita sekalian kenalan dengan penghuni kapal ini” timpalku sambil menggerakan kakinya, melihat ia tidak merespon kata kataku.
Meskipun dengan malas akhirnya ia bangun juga lalu mengucek matanya dan merapikan rambutnya yang acak –acakan.
“ Ah kamu kaya Ibuku aja kalo membangunkan ku pagi hari” katanya sambil berdiri menghampiri wastafel dekat pintu untuk mencuci muka.
“ Oh gitu?” serentak aku menjawab.
“ Kalau aku ingat Ayahku In, sampai sekarang pun ia kalau membangunkan aku atau kakaku pasti menepuk betis jika aku nggak bangun juga, maka akan semakin keras tepukannya seperti memukul” terangku.
“ Sedangkan Ibuku cuma memanggil nama aja jika membangunkan jadinya kadang kita tertidur lagi, tapi yang aku suka ia nggak memaksa kita untuk bangun yang penting kita sudah merespon panggilannya, ia biarin.., soalnya kalo aku masih males malesan aku sendiri nanti yang repot kalo sudah kesiangan, apalagi ketika aku SMP sampai SMA kalo aku telat bangun aku di tinggalin mobil yang biasa mengantarku sampai depan sekolah, jika ibuku melihatku sibuk setelah terlambat karena mengacuhkan panggilan ‘wake up’nya tadi ia cuma tersenyum” kataku panjang lebar. Memang ketika aku sekolah dulu ada kendaraan biasa mengantarkan aku dan anak sekolah lainnya sampai kedepan sekolahan masing masing penumpang karena lagi pula hanya ada tiga sekolah tujuan saja sehingga tidak merepotkan sang supir untuk mengantarkan kami sampai gerbang sekolah. Masih ingat namanya Elon kami biasa memanggil Mang Elon dengan mini bus warna hijaunya bertuliskan ‘Barokah’ di kaca belakang mobilnya. Ia akan marah besar jika aku atau yang lain ada yang telat sehingga ia harus menunggu meskipun tidak lama. Sering kami harus berlari untuk menghindari omelannya. Kadang Ibuku sering berkata “dasar si Jawa” bila menggerutu karena harus tergesa – gesa. Ibuku juga sering menggunakan jasanya setiap dua hari sekali untuk belanja di pasar. Jika orang yang belum kenal akan kaget dengan sikapnya, meskipun demikian hatinya baik ia selalu siap mengantarkan siapa saja jika ada keperluan apalgi mengantarkan orang sakit kerumah sakit, rombongan menjenguk orang sakit atau Ibu – ibu pengajian.
“ Tit…tit…tiit” Hand phone Indra berbunyi tanda ada pesan masuk. Diapun membaca pesan tersebut kemudian tersenyum, sepertinya pesan dari kekasih tercintanya.
“Ih ada signal ya “ kataku yang heran karena setahuku posisi kapal engker jauh dari daratan.
“ada dong, nih ada sms masuk,dari yayang ku” katanya sambil mengetik pesan balasan. Indrapun tanpa ku minta mempersilakan ku untuk meminjam Hp nya untuk mengirim pesan ke keluargaku.
“Kak, Deny sudah sampai dikapal dengan selamat, ini pakai Hp temen yang bareng berangkat namanya Indrayana. Salam aja buat Mih dan Abah, doain aja “ begitu isi pesan yang ku kirim ke nomor kakaku. Tak lama ku terima pesan balasan dari kakaku yang isinya
“Syukur kalau udah nyampai mah jadi kita nggak khawatir, pasti kita akan selalu mendoakan semoga sukses.”
Akupun merasa lega karena dapat memberikan kabar dan pasti Ibuku tak khawatir lagi menunggu kabar dariku. Ibuku memang tak boleh terlalu banyak fikiran karena mengidap Hipertensi, jika sedikit saja tegang maka tekanan darahnya akan naik. Pernah tekanan darah Ibuku mencapai 200mmHg yang biasanya penderita Hipertensi yang lain sudah mengalami Strok jika tekanan darah mencapai angka segitu, sedangkan Ibuku kata Dokter memiliki jantung yang kuat dan pembuluh yang nggak mudah pecah sehingga tidak mengalami Strok hanya Syok dan rasa pusing yang kuat.
Pakaian kerja berwarna orange pemberian kantor yang kekecilan terpaksa kupakai juga sebab aku tak membawa pakaian sendiri. Sementara aku sedang mengenakan kaos kaki indra mulai membuka tas kopernya untuk memakai pakaian kerja sama denganku dan sepertinya pakaian nyapun kekecilan tetapi berutung ia membawa pakaian kerja lainnya yang sudah pas ukurannya.
Indra segera berdiri seraya merapikan pakaiannya kusut karena lipatan lalu mengajakku segera menuju ruang makan. Indra memakai Wearpark warna putih dengan tulisan di bagian punggung PT. Rafa Manning Agency Indonesia. Itu adalah nama agen dimna ia join untuk naik kapal.
“Keren sekali In, warna putih kayak Chief Engine aja “ kataku melirik dari depan ketika kita sedang berjalan menuju ruanga makan. Indra hanya tersenyum sambil mengikutiku di belakang. Di Kapal yang biasa memakai wearpark warna pitih hanya dua orang saja yaitu Captain dan Chief Emgine saja karena keduanya adalah pimpinan di kapal yang kerjanya hanya menyuruh bawahanya saja sehingga pakainya akan tetap bersih.
“Selamat pagi semua” kataku setelah pinrtu Mess room terbuka. Salam sambil mengangkat tangan seperti itu sudah lazim di lakikan di kapal, khususnya orang mesin yaitu pada setiap pergantian jaga, atau ketika baru bertemu selepas tidur malam.
“Selamat pagi” serempak semua yang telah hadir di ruangan itu menjawab salam, bahkan sebagian dari mereka ada yang berdiri tanda hormat dan sebagian hanya menoleh sambil tetap duduk.
“Silakan lanjutkan saja makannya” kataku kaget melihat ada yang berdiri menghormatku.
emang ga ilang jiwa kreatifnya dari dulu,GOD JOB a..tapi kho masih ada video LunMay nya??? menghalangi pemandangan tuch!! (nie)
BalasHapus