Langit yang mendung membuat suhu udara Jakarta yang sehari harinya panas terasa lebih hangat. Sudah beberapa hari ini Jakarata diguyur hujan biasanya pada sore hingga malam hari, meskipun tak begitu deras, tapi dibeberapa tempat telah terendam banjir karenanya.
Langit yang mendung tidak membuat hatiku yang ceria menjadi mendung pula, karena esok hari aku akan berangkat berlayar, apalagi aku akan sign on di Rio Dejenairo Barazil dan itu berarti aku akan menginjakan kaki untuk pertama kali di negaranya para pemain sepak bola hebat dan terkenal seperti Ronaldo, Kaka, Cafu dan kawan-kawan yang merumput di Milan bersama club Ac Milan, juga Mancini yang main di klub favorite ku yaitu AS Roma. Bukan itu saja yang membuat hatiku tak terbawa mendung oleh suasana Jakarta, yaitu karena pesawat yang aku naiki akan transit di Paris Francis selama lima jam tentu saja aku akan ada waktu untuk melihat dari dekat menara Eifel yang merupakan slogan negara pusat mode di dunia itu.
Gerimis mulai turun sejak pukul lima sore ini namun tak menghalangiku untuk mengabarkan berita baik ini kepada sahabatku Gunawan namanya, ia tinggal di daerah Pisangan lama Jakarta Timur. Sahabatku yang pegawai negeri itu dinas di Kantor pusat Bea dan Cukai. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istrinya di daerah Pisangan Lama sejak memutuskan untuk menikahi gadis asal kota Tasikmalaya itu, Tasikmalaya adalah tempat dimana Aku dan Ia menimba ilmu sejak SMP sampai SMA bahkan gadis yang ia nikahipun adalah alumnus SMA yang sama. Ketika di sekolah sahabatku yang tampan ini kerap di gandrungi para siswi karena wajahnya yang sekilas mirip aktor terkenal Indra L Brugmen kebetulan aktor papan atas ini juga dulu sekolah di SMA Unggulan yang sama dengan kami.
Aku berjalan menyusuri gang yang sudah ramai oleh pedagang kaki lima. Memang biasanya pasar Permai Tanjung Priok sejak sore sampai sekitar jam sepuluh malam selalu ramai dengan pedagang yang menggelar lapak menjajakan daganganya.
Sambil membawa bungkusan hitam berisi tiga buah kaos kaki yang aku beli tadi di dalam pasar, akupun terus melangkahkan kaki menuju halte bis di depan Ramayana dept store. Meskipun harus berjalan dengan sesekali meloncat –loncat menghindari genangan air akhirnya sampai juga aku ke sisi jalan raya dimana ada sebuah halte yang sudah di penuhi para calon penumpang yang menunggu bis dengan tujuan yang berbeda beda. Tampak di antara keramaian seorang petugas keamanan sedang mengatur kendaraan yang akan masuk ke tempat parkir Ramayana dept Store.
Belum aku mengambil posisi di sekitar halte, tiba tiba tanganku ada yang menarik dengan kuat sehingga aku tertarik ke arah orang yang menarik tadi. Kaget dan marahku seketika hilang ketika ku mulai memperhatikan wajah laki laki yang menarik tangan ku yang sepertinya aku kenal.
“Den” sapanya sambil tersenyum melihatku yang kaget karena ulahnya. Dalam hatiku, aku kenal orang ini tetapi siapa dan dimana kita pernah bertemu. Setelah memori di otaku aku putar dan berfikir keras aku pun serentak berkata seraya berteriak.
“Ya ampun Arif, aku nggak nyangka kita ketemu lagi disini”.
“Iya aku juga, kamu sih jarang ke mess, jadi nggak pernah ada informasinya”,
“Aku sih baru turun kemaren, ada lah sekitar dua bulan”.
“Dua bulan lu bilang kemaren, dulu kali”.
“Kapalmu lagi sandar di sini?”
“ Iya sebulan sekali masuk Tanjung Priok”
“Wah enak dong bisa pulang kampung terus. Sekarang di kapal apa ?
“Masih kapal yang dulu ketika kita ketemu sama sama ngedock di Singapura”
“Oh jadi setelah Lulus kamu balik ke kapal itu lagi?”
“Iya Den, tapi nggak ada uang nya”
“Ah jangan di ilang ilangin malahan patut di syukuri nggak kaya aku yang satu tahun harus meninggalkan tanah air”
Sampai beberapa saat kami larut dalam percakapan yang hangat meskipun sambil berdiri di tengah kebisingn gemuruh suara mesin kendaraan yang lewat. Arif Sukamto lengkapnya, adalah temanku ketika di Akademi Pelayaran hanya saja kita beda kelas meskipun sama jurusan yaitu Teknika. Kami pernah bertemu ketika sedang pesiar atau jalan jalan di pertokoan di kampung India di Singapura. Saat itu kami sedang sama sama belanja makanan ringan untuk bekal di kapal sebagai cemilan. Ketika itu tepatnya di Mustofa Shoping Center yaitu pusat perbelanjaan yang notabennya India, semua pemilik dan pelayan tokonya adalah orang India hanya saja India di Singapura kebanyakan berkulit hitam. Mereka adalah India tambi tidak seperti Amita bacan, Sridevi atau Sunil Kapoor yang memiliki kulit berwarna kuning atau putih karena sudah blasteran. Saat itu ia masih praktek di kapal peti kemas milik perusahaan Tanto Intim Line surabaya. Sedangkan aku sendiri praktek di kapal peti kemas perusahaan Jepang yaitu Nippon Yusen Kaisa atau lebih tenar dengan singkatan NYK. Di Singapura kapal kami naik dock di perusahaan dock yang sama kapal kamipun bersebelahan ketika itu. Kapalnya melalukan perbaikan selama satu bulan lebih, sedangkan kapalku hanya dua minggu saja karena hanya mesin induk dan beberapa permesinan saja yang di perbaiki di bagian Mesin, sedangkan di bagian deck melakukan pengecatan ulang lambung saja, berbeda dengan kapal Arif yang memasang derek baru mungkin agar kapal selain bisa muat kontainer juga bisa difungsikan sebagai kapal Cargo, sehingga harus memiliki derek untuk memuat.
***
Sayang saat itu sudah di ujung senja sehingga ia harus pergi untuk berbelanja di dalam dept. store lagi pula akupun harus segera naik bis jurusan Pulo Gadung yang hanya sampai jam setengah enam saja melayani penumpang sampai terminal Pulo gadung jika lebih dari jam itu maka hanya sampai beberapa tempat saja karena harus masuk garasi.
Sepertinya saat itu aku naik bis yang terakhir karena ku mendengar kenek bis yang berteriak memberi tahu penumpang bahwa ini bis terakhir. Di perjalanan aku tak mengalami kesulitan meskipun harus berdesak desakan dengan penumpang lain, karena ini adalah kali kedua aku mengunjungi tempat tinggal sahabatku itu dengan menggunakan kendaraan umum. Hujan mulai turun dengan derasnya setelah melewati Pusat Pendidikan Pertamina, dimana penumpang banyak yang turun dengan terpaksa harus basah kuyup meskipun mengunakan payung, agin yang kencang membuat air hujan tetap dapat membasahi tubuh yang terlindung oleh payung.
Banjir di dalam terminal membuat bis hanya berhenti di luar terminal dan berbalik arah menuju garasi setelah semua penumpang turun. Untung hujan sudah mulai reda akupun meneruskan perjalanan menaiki mikrolet arah Kampung melayu. Karena ini perjalan kedua membuat perjalanan terasa sebentar. Kemudian aku turun persis di depan papan bertuliskan Pisangan Lama III. Dari situ sekitar lima puluh meter aku meneruskan dengan berjalan tak seperti kunjungan pertamaku, aku di jemput dengan sepeda motor oleh Istri Gunawan, namanya Pipih sedangkan kepanjangannya aku tidak tahu. Aku dan Pipih pernah bertemu di Tasikmalaya ketika Gunawan mengenalkannya padaku, sehingga saat dia yang menjemputku aku tak merasa canggung karena sudah sedikit akrab. Meskipun demikian ia mempersilakan ku memboncengnya dan ia hanya menjukan jalan karena aku belum tahu.
Kulirik jam tanganku menunjukan pukul setengah tujuh ketika aku memasuki halaman rumah Gunawan, Ku melihat sebuah motor dengan cat pilok hitam yang tak rapi di atas teras itu tandanya Gunawan pasti ada dirumah. Halaman yang tak begitu besar itu kini terlihat lebih rapi tanpa ada kayu kayu yang tak terpakai berserakan seperti pertama kali akau kesana. Untuk seukuran rumah di Jakarta halaman dua kali empat meter terbilang luas sayang Gunawan dan istrinya sepertinya tidak menyukai tanaman atau bunga menghiasi halamannya itu atau mungkin belum ada waktu saja karena ia baru beberapa bulan saja memempati rumah itu.
“Assalamu’alaikum” kataku sambil mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka tampak Istri Gunawan membukakan pintu, ia mengenakan kaos pendek berwarna hijau dengan lengan sebelah kanan di naikan khas pemain bulu tangkis Susi Susanti hendak servis, dengan celana pendek hitam berlogokan merk terkenal dunia.
“wa’alaikum salam.. a deny” sapanya dengan nada ceria sambil mencium tangan ku seperti adik kepada kakaknya.
“Akang .. ada a Deny “tambahnya sedikit berteriak memberi tahu Gunawan yang sedang makan di depan televisi. Kemudian ia mempersilakanku masuk dan langsung menyiapkan piring agar aku langsung menyantap masakanya bersama sama mereka. Setelah menyimpan bungkusan kaos kaki di bawah kursi akupun langsung menghampiri Gunawan yang sedang lahap. Sebelumnya Gunawan sudah ku telpon bahwa aku akan datang sehingga dia tidak surprise lagi atas kedatanganku, berbeda dengan pertama kali aku datang ia memeluku erat melepas rindu sambil memberondongku dengan pertanyaan yang bertubi - tubi. Kali ini Gunawan hanya menyalamiku sambil tetap bersila memegangi piring makanannya.
“ Silakan Den langsung aja cobain masakanya enggak enak pasti” katanya sambil melirik Istrinya yang kemudian meloyotinya karena diejek.
“Wah pasti enak nih karena sengaja aku nggak makan dulu coz tahu pasti akan di sajikan makanan made in Pipih di sini” kataku sambil mengambil piring yang telah di isi nasi oleh Pipih.
“Iya a Den silakan di jamin enak” Pipih menimpal dan menyodorkan lauknya.
“ Si akang mah bilangnya nggak enak mulu” tambahnya
“ Ah masa nggak enak sih orang kaya masakan restoran begini kok” kataku memuji.
“Tuh kan akang apa kata aDen” sambil mendelikan matanya ke Gunawan yang pura –pura tidak melihatnya.
Selesai makan dengan obrolan hangat dan ejekan – ejekan canda, Aku dan Gunawan pindah ke kursi. Aku duduk di kursi dengan ukuran lebih panjang menghadap ke pintu kamar , sedangkan Gunawan di kursi yang agak panjang membelakangi tempat kami makan tadi, di belakang jendela ada satu kursi lagi untuk satu orang, di tengah terdapat meja kaca sepertinya sengaja tak di tutupi karena di balik kaca banyak di selipkan foto –foto berukuran kecil terdiri dari foto – foto mesra dia dan istrinya, beberapa foto teman istrinya dan ada foto ku juga serta foto sahabat-sahabatnya yang juga sahabatku menghiasi meja itu.
Pipih yang sibuk membereskan tempat kami makan tadi masih sempat membuatkan kami kopi.
“Akang mau air putihnya?” tanyanya pada Gunawan. Pipih tetap bersikap mesra pada Gunawan meskipun selalu memjadi bahan ejekan Gunawan.
“Boleh , istriku yang cantik” jawab Gunawan, kali ini memuji istrinya yang segera membawakan segelas lagi air putih untuk suaminya tercinta. Kemudian ia melanjutkan membersihkan tampat makan.
Akupun kemudian menceritakan bahwa aku akan berangkat besok ke Barazil dan singgah di Paris setelah sebelumnya transit di Singapura.
“A Den ikut dong ke Paris” teriak Pipih dari dapur. Rupanya ia mendengarkan pembicaraan kami karena memang rumah yang sederhana itu letak dapur dan ruang tamu hanya berjarak beberapa meter saja. Ruang tamu dan ruang keluarga menjadi satu dalam ruang persegi panjang itu hanya di batasi oleh kursi yang konon menjadi kursi pelaminan saat pesta pernikahan mereka. Sedangkan dapur di pisah oleh tembok dari ruang TV di belakang dapur berbatasan dengan kamar mandi, di samping kamar mandi ada pintu keluar halaman samping yang lebih mirip lorong atau gang karena tertutup tembok pembatas rumah tetangga, sedangkan ke depanpun tertutup sehingga hanya di fungsikan untuk menjemur pakaian. Rumah mungil bercat putih itu memiliki dua kamar tidur yang berukuran sedang. Suasana yang sepi karena jarang ada anak kecil atau orang lewat di depan rumah di tambah suhu udara yang sejuk sangat nyaman untuk sepasang suami istri yang belum lama menikah itu. Perabotan yang katanya bawa dari Tasikmalaya itu telah melengkapi isi rumah, tinggal lemari pendingin aja yang masih bingung mau pilih merek apa jawab Gunawan ketika ku tanya.
“Kahade ah sing ati ati, jam sabaraha isukan berangkatna?” tanya Gunawan menanyakan jadwal keberangkatan pesawat dengan bahasa Sunda.
“Jam tujuh malam dari Sukarno-Hatta” jawabku dengan bahasa indonesia karena kulihat Pipih menghampiri kami setelah selesai bers-beres, aku tidak enak jika ia mendengar bahasa Sundaku yang kasar .
“a Den naik pesawat awat” tanya Pipih ikut menyambung. Akupun menjelaskan bahwa dari Jakarta ke Singapura naik Garuda Indonesia, sedangkan dari singapur ke Paris terus ke Rio naik Franc Air Line.
“Jadi sabaraha jam totalna perjalan” tanya Gunawan kembali dengan bahasa Sunda. Akupun menjawab dengan bahasa Indonesia bahwa akan memakan waktu kurang lebih sehari sampai Rio Dejeinero Brazil.
“Oiya Akang tadi waktu Akang ma A Den sholat si A Guruh nelpon katanya nggak bisa kesini” kata Pipih kepada gunawan, tiba tiba ia teringat.
“Iya tadi juga di jalan ia sms ke Aden katanya ia malam ini akan pulang ke Tasikmalaya karena Kakaknya akan tunangan sehingga ia kudu mempersiapkan segala sesuatunya” tambahku.
“Si menk juga ngomong nya mau kesini sama Istrinya kalau hujan sudah reda” Gunawan menimpal sambil mengambil Hpnya untuk menelpon kembali Ayi dan Istrinya yang katanya akan datang malam itu. Menk adalah panggilan untuk Ayi.
Ayi dan Guruh adalah sahabat kami juga. Kami berempat Aku,Raden Guruh, Ayi,dan Gunawan yang di singkat DRAG adalah empat sahabat yang selalu bersama sama kemanapun ketika kami sekolah dulu, sampai sampai teman kami yang lain memanggil kami Barudak Opat yang artinya Empat Orang. Sehingga jika kami hanya bertiga akan di tanya “mana satu lagi kok hanya bertiga” padahal kami memiliki banyak teman dan sahabat yang akrab lainnya yang selalu bersama seperti Roby yang di panggil Rohenk, si Ogo Yuki, Gempur, Eet, Yunus, Yudho, Oboz, dan banyak lagi teman yang mendapat nama panggilan aneh aneh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar ya...buat perbaikan,..