to people :

Pelaut Juga Punya Hati dan Cinta,

Sabtu, 06 Oktober 2012

Sailor Fashion


Beragam Pernik Sailor bisa anda dapatkan disini, dengan harag terjangkau dan kwalitas super. Manjakan Olive anda dan Si kecil anda dengan mengenakan aksesoris dan busana kebesaran anda

Rabu, 09 Juni 2010

Pelaut Juga Manusia

Suara itu terdengar kembali namun kali ini dengan bahasa yang ku kenal dan tak asing di telinga dengan intonasi yang gemulai seakan membawaku terbang keawan atau tertidur lelap di pangkuan ibuku semasa aku kecil..
“ Selamat datang di Bandara International Sukarno-Hatta” suara itupun berulang-ulang, setelah kami keluar dari puntu pesawat dan mulai menyusuri megahnya bandara Cengkareng milik bangsaku sendiri yang tak kalah dengan bandara-bandara di luar negri, namanya juga bandara internasional pantas jika pemerintah membangunya dengan megah dan biaya yang tak sedikit, berbeda dengan bandara yang dibangun untuk penerbangan domestik seperti bandara Cibeureum di Tasikmalaya misalnya yang entah sampai kapan pembangunanya bisa kelar hingga aku bisa menikmati perjalanan singkat dari Jakarata menuju Tasikmalaya atau sebaliknya. Berbeda dengan saat ini perjalanan Tasikmalaya menuju Jakarta harus di tempuh dengan waktu lima sampai enam jam lewat jalan darat itupun kalau tol Cipularang tidak macet. Lima atau enam jam adalah waktu yang lama untuk orang seperti ku yang menganggap detik adalah berkumpul dengan keluarga, karena pekerjaanku sebagai pelaut mengharuskanku selalu jauh dari rumah dalam waktu yang lama.
Setahun sudah lamanya aku berlayar tepatnya dua belas bulan dua puluh delapan hari, selama itupula aku tak bersua dengan Ibuku tercinta, Ayahku yang sangat menyayangiku dan kakakku satu-satunya serta adik angkatku yang tiga hari kebelakang aku dapat kabar kalau kakak kembaranya meninggal karena sakit. Oya satu lagi yang paling aku sayangi keponakanku yang lucu dengan tingkah yang menggemaskan, mungkin dia sekarang lagi menunggu ku membawakan mobil mainan yang ia pesankan pada saat aku akan berangkat berlayar.
Setelah sekian lama menyusuri pintu keluar bandara tanpa sedikitpun kami berbicara atau berbincang bincang, Martoyo pun berbisik padaku” Sebentar ya saya ketoilet dulu”
“ Iya pak de saya juga mau kencing dulu” timpal Salmon seraya memberikan tas ranselnya padaku kemudin berlari mendahului Martoyo yang berjalan agak jingjit karena kaki sebelah kananya mengalami cedra ketika bekerja di kapal. Sesaat akupun teringat Ayahku yang berjalan sama seperti Martoyo. Ayahku mengalami patah tulang pada paha kanan karena kecelakaan lalu lintas, saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah menengah. Beruntung waktu itu ayahku cepat di bawa kerumah sakit terkenal di Bandung sehingga sekarang bisa berjalan normal meskipun sedikit jinjit seperti Martoyo.
Aku pun menghentikan langkahku di depan pintu toilet sambil meminggirkan tas ransel Salmon yang berat. Tak lama mereka keluar dan gantian aku yang masuk toilet meskipun hanya untuk cuci muka saja karena di pesawat tadi aku sudah berulangkali buang air kecil. Setelah aku keluar dari toilet kamipun melanjutkan perjalan menuju pemeriksaan Imigrasi dan pengambilan bagasi.
“Pak, di cek dulu kartu kedatangannya ada nggak?, kalo nggak ada nanti di denda dan harus bikin dulu” kataku sambil menunjukan kartu yang ku maksud, Aku memanggil Martoyo dengan Bapak karena umurnya memang seumur dengan ayahku dan ia adalah Second Officer di kapal, sedangkan Salmon ku panggil Abang, ia adalah Fisrt Engineer dan umurnya sekitar tiga puluh tahunan. Saat itu kami bertiga: aku, Salmon, dan Martoyo sign off dari kapal yang sama yaitu MV.Sanwa Fontaine berbendera Panama,dan kebetulan kita dari agen yang sama sehingga kita berencana singgah bareng ke kantor sebelum pulang kerumah masing-masing. Salmon berasal dari Manado tetapi tinggal di Makasar bersama Istrinya yang Muslimah sedang ia sediri beragama Kristen mereka telah dikarunia dua orang putri yang lucu-lucu, aku tahu dari beberapa foto di Laptopnya. Salmon adalah lulusan PIP Makasar, berbeda dengan Martoyo yang memiliki duo orang putra dan satu putri yang Sedang kuliah semester tiga di Semarang. Ia bersama istri dan purtrinya tinggal di Semarang sedangkan dua putranya di Tanggerang Banten. BPLP Semarang adalah almamaternya sedangkan aku sendiri lulus tahun 2006 dari AMNI Semarang.
“Saya ada” kata Martoyo sambil mengacungkan kartunya
“Yang mana ya Den?” tanya Salmon padaku dengan wajah khawatir. Akupun menunjukan kartuku dan membantunya mencari di dalam dokomen nya.
“Makanya kartu ke datangan itu simpan aja di dalam Pasport selipkan di pelastik covernya, jadi nggak mungkin hilang dan ntar gampang nyarinya” gumamku sambil membolak balik dokumen Salmon.
“Pasti ada, mungkin di sela-sela buku pelaut atau yang lainnya, nggak mungkin ilang la wong baru dua bulan kok, mas Deny aja yang udah setahun lebih masih ada”. Tambah Martoyo kepada Salmon yang mulai panik.
Salmon memang baru dua bulan ia dikapal karena hanya menggantikan first Engineer orang korea yang sekolah dan kembali lagi kekapal hanya satu trif saja.
Beruntung akhirnya kartu pun ditemukan Salmonpun menarik nafas lega. Kami segera menuju antrian untuk pengecekan Imigrasi.Setelah itu mengambil bagasi dan kembali di periksa di pemeriksaan terakhir yaitu pengecekan barang bawaan. Dengan susah payah ku naikan koperku ke atas roll mirip kompayer di kapal. untuk di masukan kedalam sebuah alat pendeteksi yang canggih sehingga isi di dalam koper bisa terlihat. Saat itu aku membawa dua buah koper dorong yang berukuran besar yang isinya oleh-oleh buat keluarga serta cendramata dan hiasan untuk kenang-kenangan di rumah.
“Indonesia I’m coming” tanpa ada komando kami bertiga berteriak, setelah itu saling berpandangan dan akhirnya tertawa bersama. Saat itu rasa senang tak terhingga setelah kami keluar dari pintu bandara Soekarno-Hatta.
“Aku bebas” teriak Salmon sambil menelentangkan kedua tanganya seperti burung mengepakan sayap hendak terbang tinggi ke awan. Begitu pula dengan Martoyo yang tak mau kalah iapun meneriakan kata yang sama sambil mengacungkan tangan kananya keatas tetapi agak menyamping, sedangkan tangan kiri dilipat didepan dada dan kedua kaki jaraknya dilebarkan dengan gerakan pinggul naik turun meniru gaya tokoh sinchan di film kartun anak ketika meneriakan “Pahlawan Bertopeng”. Kontan aku dan Salmon tertawa melihat tingkah Martoyo yang seperti anak kecil itu. Orang di sekeliling kamipun tak luput ikut tertawa meskipun sambil menutup mulut mereka untuk menahan tawa.
“Udah pak de malu di lihat orang” sahut Salmon memperingati, dan wajahnya mulai memerah karena malu banyak orang yang memperhatikan tingkah kami yang lucu.
“Biarin aja namanya juga orang lagi senang” Jawab Martoyo tak menghiraukan Salmon yang cemberut dan menjauhi Martoyo yang terus bertingkah aneh.
Asap rokokpun dihembuskan dengan kencang seakan ingin kepulannya sampai kerumah membawa berita bahwa ia telah menginjakan kaki di tanah air. Sesekali tersenyum melihat Tingkah Martoyo yang nggak kapok jadi bahan tertawaan orang lewat. Kemudian ia menyenderkan badan di tiang sambil tetap mengisap rokok. Sedangkan aku segera menghampiri agent perjalanan yang paling dekat dengan pintu keluar yang sedari tadi melambaikan tangan kananya sambil tangan kirinya memegang papan bertuliskan TAXI. Perempuan itu tak bosan-bosan melambaikan tangan dari mulai kami keluar pintu sampai tingkah-tingkah lucu Martoyo, perempuan itu berumur sekitar 27 tahunan dengan dandanan mewah terlihat dari bau minyak wanginya yang mahal, pakaian yang seksi warna orange sangat cocok dengan warna kulit tanganya yang putih berbulu tipis. Wajahnyha yang ayu bersebrangan dengan gaya bicaranya yang cepat tanpa titik dan koma. Cantik sekali perempuan itu, selama setahun ini memang aku jarang menemui wanita secantik dia.
“Mari mas, kami siap mengantarkan anda kemanapun, kapanpun dengan nyaman dan aman” ajaknya mempromosikan agent perjalananya.
“dijamin uang kembali jika service kami tidak memuaskan” tambahnya lagi kali ini sambil tersenyum manis dengan bibirnya yang tipis membuat mata enggan berkedip menikmatinya.
“Silakan Mas pilih sendiri mau kendaraan apa” tanyanya membuatku terkaget karena sedang asyik memandang bibirnya.
“Ntar dulu harganya berapa?” jawabku balik bertanya
“Harga sesuai janis kendaraannya, Oya Masnya mau kemana?, langsung ke kampung juga bisa mau ke Brebes, Tegal atau Surabaya?” Tanyanya cepat.
“Memangnya saya ada tampang Jawa gitu” Tanyaku heran dia menebak tujuanku ke daerah Jawa Tengah .
“Maaf saya cuma mendengar percakapan Mas dengan Bapak itu” jawabnya sambil menunjuk Martoyo yang sedang menghampiri Salmon.
“Saya cuma mau ke Tanjung Priok aja, Berapa? Tanyaku lagi
“Mau pake mobil apa?” tanyanya sambil menjelaskan tulisan di sebuah kertas yang di laminating. Mengingat barang bawaan kami yang banyak akupun memilih kendaraan yang agak besar.
“Ini harganya bisa turun dikit nggak?” tanyaku
“Maaf Mas harganya sudah sesuai dengan trayek jadi nggak bisa di ganggu gugat” katanya sambil mengangkat sebelah alisnya membuat aku heran dengan wajahnya yang ayu tetapi sikapnya ganjen juga.
“ Oh jadi sudah keputusan Bu Hakim ya, tapi dah termasuk sopirnya kan?” candaku
“Itu merupakan service kami dan sopir tidak diperkenankan menerima tif kecuali penumpang memaksa” ia membalas candaku
“Nggak.. Padahal kalau sopirnya Mba…?” kataku sambil menyodorkan tangan untuk berkenalan dan iapun tak bisa menolaknya. Namanya Ajeng tinggal di Cempaka Putih.
“Kalau sopirnya saya memangnya kenapa” tanyanya penasaran setelah mengatakan tempat tinggalnya
“Kalau situ yang nyopir, saya bayar dua kali lipat pun nggak apa-apa” candaku sambil mengedipkan mata
“Ah si Mas bisa saja, kalau saya yang nyopir perusahaan rugi besar” katanya. Akupun heran dan terus bertanya dan ia menjawab dengan candaan yang membuatku tertawa. Kami leluasa ngobrol karena pintu keluar sepi sehingga ia tidak harus melambai lambaikan tangan lagi seperti padaku tadi.


Setelah ku bayar sesuai dengan harga yang telah di sampaikan, mobilpun tak lama datang, sang sopir turun dari mobil dan membuka bagasi serta memasukan koper-koper kami. Inova biru muda yang kami tumpangi akhirnya melaju cepat setelah masuk tol menuju Tanjung Priok. Obrolan hangat di dalam mobil membuat waktu seakan tak terasa, kami berencana mencari sebuah penginapan dahulu kemudian makan siang di warung makan sederhana milik pamanku yang sudah ku pesan selama di perjalanan dengan menelpon bahwa aku akan mampir bersama dua orang temanku untuk menikmati pepes ayam tulang lunak dan sambel khas parahiangan. Aku menghubungi pamanku dengan meminjam hand phone milik pak sopir mobil yang kami tunggangi karena simcard yang kami bertiga miliki sudah kedaluarsa, masa aktif dan masa tenggangnya sudah habis. Kepada pamanku aku juga menanyakan penginapan yang murah tapi sehat, dan pamanku menunjukan penginapan yang bersebelahan dengan dengan warung makannya namanya penginapan Saudara persis di sebelah kiri warung makan pamanku hanya terhalang gang kecil saja di sebrang jalan terdapat Perusahaan Air minum PAMJAYA yang berdampingan dengan pasar Sindang.

To be Continue….

Minggu, 06 Juni 2010

MV.DALNEGORSK Pelaut juga Manusia

lega rasanya setelah sampai di ujung tangga gankway, setelah hampir terjatuh untung ada dua orang yang membantu membawakan tas koper kami.
“Orang kitanya ada berapa” Tanya Indra setelah menarik nafas dalam-dalam,seraya menyodorkan tangan pada salah seorang dari mereka yang berambut agak panjang namun terurus.Orang itupun menjabat tangan Indra penuh suka cita karena kedatangan crew yang sebangsa
“Endang, dan ini bang Pitter dia pendobrak pertama di kapal ini”,katanya mengenalkan satu orang yang sedang memegangi tas ku.
” Saya Henry, Oya orang kita sekarang jadi sembilan orang” Tukasnya. Lalu keduanya menunjukan jalan masuk setelah menaikan kembali tangga gankway.
“lagi jaga ya pak?” tanyaku penuh hormat sambil berusaha mengangkat koper.
” Iya kalo lagi engker ada yang jaga di sini, ayo silakan lewat tangga belakang aja soalnya kalo lewat sana harus berputar”.Dengan susah payah ku panjat tangga dan sekilas di ujung tangga ku mencium khas bau dapur, lalu setelah melewati tangga kedua terlihat ada dua orang sedang mengepulkan asap rokok sambil duduk di kursi panjang, mereka tersentak atas kedatangan kami sepertinya mereka tidak melihat kami ketika naik gankway, lalu ku sapa dan menyodorkan tangan untuk bersalaman.Keduanya bernama Arif dan Mamo mereka adalah Oiler dan yang satunya AB. Arif berasal dari Brebes dan Mamo dari logatnya aku sudah bisa menebak ia berasal dari Tegal.
“Aduh dimana ya? Ya udah di Salon aja dulu nanti saya kasih tau Chief Officer dulu”. Kata Endang dengan logat sunda yang kental.belum dia melangkahkan kaki, Indra memotong “Anterin ke kamar Captain aja biar kami ketemu Captain dulu”.
“oh.. begitu. Ya udah mari saya tunjukan”, jawabnya. Kami bertigapun bergegas menuju kamar captain. Kamar Captain terletak di lantai lima bersebelahan dengan kamar Third Officer.
“Kayaknya Captain di Bright” kata Endang setelah kami mendengar suara orang berincang-bincang memang sumber suara dari atas. Dari suaranya ku tau pasti orangnya sudah berumur.Lalu kamipun naik satu tangga lagi dan disana kulihat Anjungan dengan segala kelengkapannya.
“New crew kah, Ok give me your document” Kata seseorang yang agak membungkuk memakai wear park putih, dengan mata agak sipit sambil sibuk membuka-buka sebuah buku ditangannya. Akupun membuka tas dan menyerahkan sebuah amplop besar kepadanya, begitupun dengan Indra iapun menyerahkan sebuah amplop yang berwarna sama dengan punyaku.
“Who are you?” dia bertanya pada Indra.
Indra menjawab “Third Officer, and this from my agent for Captain.” Sambil menyerahkan satu amplop lagi namun kali ini amplop putih seperti amplop surat dengan logo dan alamat agent yang ia maksud.
“Ok” jawabnya singkat.
Dan kemudian iapun melirik kepadaku sambil tetap sibuk membaca buku ditangannya sesekali mengotak-atik komputer di atas meja sekilas ku lihat ia sedang menginstal Print. Dalam hatiku berkata sepertinya orang ini kurang bisa bahasa inggris sehingga menginstal aja sambil membaca buku panduannya.
”And you?” tanyanya
“me Sam Ki Sa” jawabku dengan bahasa dan logat Korea yang artinya Third Engineer. Kulihat ia kaget dengan jawabanku dengan bahasa negaranya iapun menutup buku di tangannya dan menyimpannya di samping komputer lalu menatapku heran.
“Oh you can speak Korean?” tanyanya.
“ Ye cokoman yo” jawabku sekali lagi dengan bahasa korea yang artinya mengiyakan. Iapun mengangguk-angguk
“ Oh arase” katanya berulang-ulang.
Lalu ia menyuruh Endang menunjukan kamar kami untuk beristirahat. Kemudian kamipun beranjak dari ruang sempit itu,yang belakangan ku tahu itu adalah Radio room yang terletak di belakang Bright dan di sebrangnya terdapat Pilot room yang di dalamya terdapat tempat tidur,toilet kecil sebuah lemari dan meja kecil, terdapat pula sebuah komputer desktop diatas meja.

Kami duduk dikursi yang tak lazim ditemukan dimanapun, kursinya besar dan panjang di tiap sisi ruangan, kursi yang menghadap kesebuah Televisi 21” ukurannya lebih besar dengan warna covernya yang gelap menambah heran orang yang baru melihatnya. Didepan kursi tersebut ada meja besar seukurang meja bilyard di sisi kiri dekat pintu masuk ada lemari dengan banyak pintu. Mungkin ini yang tadi Endang bilang Salon, aku pun menganbil sebuah selimut dan bantal yang ada di sudut salah satu kursi dan langsung ku rebahkan badan yang terasa cape seusai manjat tangga demi tangga tadi, selimbut pun ku kibaskan agar menutup semua kaki sampai ke badanku yang terasa dingin, memang suhu saat itu sangat dingin dan tentu saja tubuhku kaget setelah terbiasa dengan suhu di Jakarta yang panas. Setelah beberapa saat tak kudengar lagi suara obrolan Indra yang merasa aneh melihat kondisi kapal yang berbeda dengan kapal sebelumnya, mungkin diapun kelelahan dan tertidur, sedangkan aku tak bisa memejamkan mata meskipun badan lelah dan tulang terasa ngilu di terpa angin dari pendingin ruangan. Aku terus larut dalam lamunan yang tak terarah, terkadang aku merasa ada yang kurang atau ada yang salah dan akupun terus berusaha berfikir keras mengingat apa yana kurang. Hatikupun terus bertanya tanya mungkin ada yang tertinggal, dan akupun mulai teringat kalau aku ketinggalan obat sakit gigi di Jakarta, padahal biasanya setiap aku berangkat berlayar obat itu selalu menyertaiku untuk persiapan, karena bagiku sakit gigi lebih sakit dari sakit apapun bahkan lebih sakit dari sakit hati seperti lagu dangdut yang terkenal di tanah air yang paling dibenci oleh ayahku. Sesaat aku merasa lega bahwa yang kurasa ada yang kurang hanya ketinggalan obat itu saja yang mungkin di kapalpun ada, tetapi setelah itu aku masih merasakan ada yang mengganjal fikiranku.
“Ya Alloh, aku belum sholat” gumamku sedikit berteriak sehingga ku lihat Indra terkaget dan mengubah posisi tidurnya jadi menghadap dinding dan membelakangiku yang terus beristighfar. Kemudian akupun membuka tasku dan mengambil sebuah pembersih wajah, fikirku aku akan berwudlu sekalian membersihkan wajah karena jika semalam saja aku lupa cuci muka maka ketika bangun pagi wajahku tersa gatal pertanda akan tumbuh jerawat.
Tidak memakan waktu lama buatku untuk menemukan sebuah toilet karena di setiap kapal sama yang mana di setiap lantai akan ada toilet dan posisinyapun tidak jauh berbeda lagi pula pasti ada tulisan atau lambang petunjuk. Didalam toilet yang berukuran tidak besar itu ku berwudlu. Meskipun suhu air sangat dingin sehingga membuat aku hampir menjerit di awal ku mencuci tangan tapi aku tetap berusaha untuk khusuk. Selesai berwudlu aku kembali ke ruangan tempat aku istirahat tadi lalu ku buka koperku dan mengambil sarung serta sajadah yang telah di siapkan oleh kakaku ketika aku hendak berangkat. Masih terngiang di ingatanku kakaku berkata : “Sarungnya jangan yang itu dong yang bagusan sedikit kenapa?,kan ada yang baru” ketika aku akan memasukan sarung yang biasa ku pakai sholat jumat di rumah. Kulihat jam menunjukan pukul tiga lalu ku bentangkan sajadah menghadap ke depan atau ke arah haluan yang memang posisi ruangannya memungkinkan untuk ku melakukan solat. Sejenak ku ingat ayahku berkata bahwa kiblatnya sholat kemana aja nggak masyalah yang penting niat, aku juga masih ingat ketika di sekolah dasar dulu guru agamaku mengajarkanku cara sholat diatas kendaraan dalam perjalan hendaknya kita menghadap ke arah kendaraan melaju atau kedepan.
Selesai sholat Isya empat rokaat aku kembali bersujud meminta maaf kepada Alloh atas kelalaianku meninggalkan sholat ketika di pesawat, padahal aku telah berjanji tak akan pernah meninggalkan solat jika aku berangkat berlayar lagi sebagai tanda syukurku padaNya, apa lagi aku berniat berlayar tahun ini sebagian gajiku untuk ongkos Ayah dan Ibuku berangkat Haji, aku tak mau jika uang yang dipakai mereka berhaji ternodai oleh kekhilafanku mengerjakan apa yang tak di sukai Alloh. Aku tak ingin ketika di tanah suci nanti orang tuaku mengalami hal-hal aneh seperti yang banyak di ceritakan oleh orang orang pulang haji, diantara mereka ada yang dilangkahi orang tinggi besar, ada yang di titipin bayi bahkan ada yang terseret seret oleh jemaah lain. “Ya Alloh mudah-mudahan Engkau memudahkan Ayah dan Ibuku nanti ketika menjadi tamumu, dan mudahkanlah hamba untuk mengabulkan impian mereka menjadi tamuMu”.
Akupun bangun dari sujudku dan kembali berdo’a seperti biasa berdo’a selepas Sholat. Alhamdulillah akupun menjadi tenang fikirankupun tak melayang layang seperti tadi, kantukpun mulai hinggap dan akupun kembali ke tempat tadi aku membaringkan tubuh setelah menutup resleting koperku kembali.
“yah, wei igo sleep here” teriak salah seorang crew asal Korea yang berperawakan sedikit kekar dengan rambut beruban dengan nada keras kepada seorang Crew memakai wear park orange sudah kumel yang kebetulan lewat di depan ruangan yang kami tempati dan berpapasan dengan orang yang berteriak tadi. Kulirik jam dinding menunjukan jam empat pagi.
“I don’t know” jawab orang berwear park orange itu. Belakangan aku tahu orang Korea yang berteriak itu ternyata Chief Officer yang hendak jaga di anjungan, dan orang yang memakai wearpark orange itu adalah salah satu AB di kapal ini namanya Yudi dia berasal dari Manado Sulawesi Utara.
“Speaking tidur pindah hera, sana Visitor room” tambah Chief Officer masih dengan nada keras dengan bahasa campuran bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan bahasa mKorea.
Tak lama kudengar suara langkah kaki memasuki ruangan yang kami tempati akupun bangun dan tersenyum padanya, ternyata ia orang yang sekilas kulihat tadi berbicara dengan Chief Officer. Akupun menyodorkan tangan untuk bersalaman
Dan kamipun berkenalan setelah itu ia mempersilahkan kami untuk pindah ke tempat tidur tamu seperti yang di perintahkan Chief officer padanya tadi. Kubangunkan Indra untuk pindah, dengan berat ia mengankat tubuh dan dengan langkah lunglai iapun mengikutiku ke ruangan yang Yudi tunjukan. Akupun tertidur pulas di atas kasur yang agak keras, setelah mengucapkan terima kasih pada Yudi. Sedangkan Indra tidur di atas kursi yang berukuran sama dengan kursi di ruangan tadi.
“ Tok…tok…tok” suara pintu ada yang mengetuk, tak lama daun pintu bergerak dan pintu terbuka perlahan.
“Pamoko yo” sahut seorang pria dengan mata sipit rambut beruban dan bibir agak kedepan melebihi hidungnya yang mancung.
Ia mengenakan kaos hitam sedangkan celana kain warna abu abunya tertutup celemek berwarna coklat, sepertinya dia adalah koki dikapal, ia memberitahukan bahwa sudah waktunya makan, meskipun dengan bahasa korea tetapi kata itu sudah familiar di telingaku. Ku lihat jam menunjukan pukul tujuh.
“ ye.. Jurijang nim, kamsah imnida” jawabku mengucapkan terima kasih telah di bangunkan sambil berdiri dan menganggukan kepala. Begitu cara orang korea bila bertemu atau mengucapkan selamat tinggal dengan menganggukan kepala seperti orang Jepang, hanya saja tidak terlalu menunduk sampai membungkuk seperti orang lanjut usia layaknya mendiang neneku ketika masih ada.
“ye..” ia menjawab dengan intonasi yang di panjangkan, ia juga membalas anggukan ku kemudian menutup kembali pintu dengan hati-hati. Begitulah di kapal jika sudah waktunya makan maka koki atau pelayan jika ada selalu memberitahukan kepada semua crew, hanya saja disetiap kapal caranya berbeda sesuai kebiasaan masing masing ada yang dengan memukil kentongan dari logam, ada yang dengan berteriak berulang-ulang, ada yang menggunakan pengeras suara apalagi jika ada crew yang bekerja di atas deck, tetapi ada pula yang hanya mengetuk pintu tiap-tiap crew tanpa berkata apapun, tentunya semua crew yang terbangun karena ketukan tinggal melihat jam di dinding dan segera mengerti isyarat ketukan tadi.
“Ya ampun… aku belum sholat subuh lagi padahal baru beberapa jam yang lalu aku memohon maaf padaNya” gumamku sambil menggaruk kepala. Lalu ku buka jendela ternyata masih gulita, sepertinya sunrise belum muncul.
“Syukurlah belum terlambat “ kataku.
“Siapa tadi Den, apa katanya? Tanya Indra yang ternyata sudah terjaga.
“kayaknya sih koki, tadi nyuruh makan”, jawabku
“Ayo bangun” tambahku sambil menepuk betis Indra yang masih males malesan.
“Ayo In, biar kita sekalian kenalan dengan penghuni kapal ini” timpalku sambil menggerakan kakinya, melihat ia tidak merespon kata kataku.
Meskipun dengan malas akhirnya ia bangun juga lalu mengucek matanya dan merapikan rambutnya yang acak –acakan.
“ Ah kamu kaya Ibuku aja kalo membangunkan ku pagi hari” katanya sambil berdiri menghampiri wastafel dekat pintu untuk mencuci muka.
“ Oh gitu?” serentak aku menjawab.
“ Kalau aku ingat Ayahku In, sampai sekarang pun ia kalau membangunkan aku atau kakaku pasti menepuk betis jika aku nggak bangun juga, maka akan semakin keras tepukannya seperti memukul” terangku.
“ Sedangkan Ibuku cuma memanggil nama aja jika membangunkan jadinya kadang kita tertidur lagi, tapi yang aku suka ia nggak memaksa kita untuk bangun yang penting kita sudah merespon panggilannya, ia biarin.., soalnya kalo aku masih males malesan aku sendiri nanti yang repot kalo sudah kesiangan, apalagi ketika aku SMP sampai SMA kalo aku telat bangun aku di tinggalin mobil yang biasa mengantarku sampai depan sekolah, jika ibuku melihatku sibuk setelah terlambat karena mengacuhkan panggilan ‘wake up’nya tadi ia cuma tersenyum” kataku panjang lebar. Memang ketika aku sekolah dulu ada kendaraan biasa mengantarkan aku dan anak sekolah lainnya sampai kedepan sekolahan masing masing penumpang karena lagi pula hanya ada tiga sekolah tujuan saja sehingga tidak merepotkan sang supir untuk mengantarkan kami sampai gerbang sekolah. Masih ingat namanya Elon kami biasa memanggil Mang Elon dengan mini bus warna hijaunya bertuliskan ‘Barokah’ di kaca belakang mobilnya. Ia akan marah besar jika aku atau yang lain ada yang telat sehingga ia harus menunggu meskipun tidak lama. Sering kami harus berlari untuk menghindari omelannya. Kadang Ibuku sering berkata “dasar si Jawa” bila menggerutu karena harus tergesa – gesa. Ibuku juga sering menggunakan jasanya setiap dua hari sekali untuk belanja di pasar. Jika orang yang belum kenal akan kaget dengan sikapnya, meskipun demikian hatinya baik ia selalu siap mengantarkan siapa saja jika ada keperluan apalgi mengantarkan orang sakit kerumah sakit, rombongan menjenguk orang sakit atau Ibu – ibu pengajian.
“ Tit…tit…tiit” Hand phone Indra berbunyi tanda ada pesan masuk. Diapun membaca pesan tersebut kemudian tersenyum, sepertinya pesan dari kekasih tercintanya.
“Ih ada signal ya “ kataku yang heran karena setahuku posisi kapal engker jauh dari daratan.
“ada dong, nih ada sms masuk,dari yayang ku” katanya sambil mengetik pesan balasan. Indrapun tanpa ku minta mempersilakan ku untuk meminjam Hp nya untuk mengirim pesan ke keluargaku.
“Kak, Deny sudah sampai dikapal dengan selamat, ini pakai Hp temen yang bareng berangkat namanya Indrayana. Salam aja buat Mih dan Abah, doain aja “ begitu isi pesan yang ku kirim ke nomor kakaku. Tak lama ku terima pesan balasan dari kakaku yang isinya
“Syukur kalau udah nyampai mah jadi kita nggak khawatir, pasti kita akan selalu mendoakan semoga sukses.”
Akupun merasa lega karena dapat memberikan kabar dan pasti Ibuku tak khawatir lagi menunggu kabar dariku. Ibuku memang tak boleh terlalu banyak fikiran karena mengidap Hipertensi, jika sedikit saja tegang maka tekanan darahnya akan naik. Pernah tekanan darah Ibuku mencapai 200mmHg yang biasanya penderita Hipertensi yang lain sudah mengalami Strok jika tekanan darah mencapai angka segitu, sedangkan Ibuku kata Dokter memiliki jantung yang kuat dan pembuluh yang nggak mudah pecah sehingga tidak mengalami Strok hanya Syok dan rasa pusing yang kuat.
Pakaian kerja berwarna orange pemberian kantor yang kekecilan terpaksa kupakai juga sebab aku tak membawa pakaian sendiri. Sementara aku sedang mengenakan kaos kaki indra mulai membuka tas kopernya untuk memakai pakaian kerja sama denganku dan sepertinya pakaian nyapun kekecilan tetapi berutung ia membawa pakaian kerja lainnya yang sudah pas ukurannya.
Indra segera berdiri seraya merapikan pakaiannya kusut karena lipatan lalu mengajakku segera menuju ruang makan. Indra memakai Wearpark warna putih dengan tulisan di bagian punggung PT. Rafa Manning Agency Indonesia. Itu adalah nama agen dimna ia join untuk naik kapal.
“Keren sekali In, warna putih kayak Chief Engine aja “ kataku melirik dari depan ketika kita sedang berjalan menuju ruanga makan. Indra hanya tersenyum sambil mengikutiku di belakang. Di Kapal yang biasa memakai wearpark warna pitih hanya dua orang saja yaitu Captain dan Chief Emgine saja karena keduanya adalah pimpinan di kapal yang kerjanya hanya menyuruh bawahanya saja sehingga pakainya akan tetap bersih.
“Selamat pagi semua” kataku setelah pinrtu Mess room terbuka. Salam sambil mengangkat tangan seperti itu sudah lazim di lakikan di kapal, khususnya orang mesin yaitu pada setiap pergantian jaga, atau ketika baru bertemu selepas tidur malam.
“Selamat pagi” serempak semua yang telah hadir di ruangan itu menjawab salam, bahkan sebagian dari mereka ada yang berdiri tanda hormat dan sebagian hanya menoleh sambil tetap duduk.
“Silakan lanjutkan saja makannya” kataku kaget melihat ada yang berdiri menghormatku.

Pelaut Juga Manusia BAGIAN II

Langit yang mendung membuat suhu udara Jakarta yang sehari harinya panas terasa lebih hangat. Sudah beberapa hari ini Jakarata diguyur hujan biasanya pada sore hingga malam hari, meskipun tak begitu deras, tapi dibeberapa tempat telah terendam banjir karenanya.
Langit yang mendung tidak membuat hatiku yang ceria menjadi mendung pula, karena esok hari aku akan berangkat berlayar, apalagi aku akan sign on di Rio Dejenairo Barazil dan itu berarti aku akan menginjakan kaki untuk pertama kali di negaranya para pemain sepak bola hebat dan terkenal seperti Ronaldo, Kaka, Cafu dan kawan-kawan yang merumput di Milan bersama club Ac Milan, juga Mancini yang main di klub favorite ku yaitu AS Roma. Bukan itu saja yang membuat hatiku tak terbawa mendung oleh suasana Jakarta, yaitu karena pesawat yang aku naiki akan transit di Paris Francis selama lima jam tentu saja aku akan ada waktu untuk melihat dari dekat menara Eifel yang merupakan slogan negara pusat mode di dunia itu.
Gerimis mulai turun sejak pukul lima sore ini namun tak menghalangiku untuk mengabarkan berita baik ini kepada sahabatku Gunawan namanya, ia tinggal di daerah Pisangan lama Jakarta Timur. Sahabatku yang pegawai negeri itu dinas di Kantor pusat Bea dan Cukai. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istrinya di daerah Pisangan Lama sejak memutuskan untuk menikahi gadis asal kota Tasikmalaya itu, Tasikmalaya adalah tempat dimana Aku dan Ia menimba ilmu sejak SMP sampai SMA bahkan gadis yang ia nikahipun adalah alumnus SMA yang sama. Ketika di sekolah sahabatku yang tampan ini kerap di gandrungi para siswi karena wajahnya yang sekilas mirip aktor terkenal Indra L Brugmen kebetulan aktor papan atas ini juga dulu sekolah di SMA Unggulan yang sama dengan kami.
Aku berjalan menyusuri gang yang sudah ramai oleh pedagang kaki lima. Memang biasanya pasar Permai Tanjung Priok sejak sore sampai sekitar jam sepuluh malam selalu ramai dengan pedagang yang menggelar lapak menjajakan daganganya.
Sambil membawa bungkusan hitam berisi tiga buah kaos kaki yang aku beli tadi di dalam pasar, akupun terus melangkahkan kaki menuju halte bis di depan Ramayana dept store. Meskipun harus berjalan dengan sesekali meloncat –loncat menghindari genangan air akhirnya sampai juga aku ke sisi jalan raya dimana ada sebuah halte yang sudah di penuhi para calon penumpang yang menunggu bis dengan tujuan yang berbeda beda. Tampak di antara keramaian seorang petugas keamanan sedang mengatur kendaraan yang akan masuk ke tempat parkir Ramayana dept Store.
Belum aku mengambil posisi di sekitar halte, tiba tiba tanganku ada yang menarik dengan kuat sehingga aku tertarik ke arah orang yang menarik tadi. Kaget dan marahku seketika hilang ketika ku mulai memperhatikan wajah laki laki yang menarik tangan ku yang sepertinya aku kenal.
“Den” sapanya sambil tersenyum melihatku yang kaget karena ulahnya. Dalam hatiku, aku kenal orang ini tetapi siapa dan dimana kita pernah bertemu. Setelah memori di otaku aku putar dan berfikir keras aku pun serentak berkata seraya berteriak.
“Ya ampun Arif, aku nggak nyangka kita ketemu lagi disini”.
“Iya aku juga, kamu sih jarang ke mess, jadi nggak pernah ada informasinya”,
“Aku sih baru turun kemaren, ada lah sekitar dua bulan”.
“Dua bulan lu bilang kemaren, dulu kali”.
“Kapalmu lagi sandar di sini?”
“ Iya sebulan sekali masuk Tanjung Priok”
“Wah enak dong bisa pulang kampung terus. Sekarang di kapal apa ?
“Masih kapal yang dulu ketika kita ketemu sama sama ngedock di Singapura”
“Oh jadi setelah Lulus kamu balik ke kapal itu lagi?”
“Iya Den, tapi nggak ada uang nya”
“Ah jangan di ilang ilangin malahan patut di syukuri nggak kaya aku yang satu tahun harus meninggalkan tanah air”
Sampai beberapa saat kami larut dalam percakapan yang hangat meskipun sambil berdiri di tengah kebisingn gemuruh suara mesin kendaraan yang lewat. Arif Sukamto lengkapnya, adalah temanku ketika di Akademi Pelayaran hanya saja kita beda kelas meskipun sama jurusan yaitu Teknika. Kami pernah bertemu ketika sedang pesiar atau jalan jalan di pertokoan di kampung India di Singapura. Saat itu kami sedang sama sama belanja makanan ringan untuk bekal di kapal sebagai cemilan. Ketika itu tepatnya di Mustofa Shoping Center yaitu pusat perbelanjaan yang notabennya India, semua pemilik dan pelayan tokonya adalah orang India hanya saja India di Singapura kebanyakan berkulit hitam. Mereka adalah India tambi tidak seperti Amita bacan, Sridevi atau Sunil Kapoor yang memiliki kulit berwarna kuning atau putih karena sudah blasteran. Saat itu ia masih praktek di kapal peti kemas milik perusahaan Tanto Intim Line surabaya. Sedangkan aku sendiri praktek di kapal peti kemas perusahaan Jepang yaitu Nippon Yusen Kaisa atau lebih tenar dengan singkatan NYK. Di Singapura kapal kami naik dock di perusahaan dock yang sama kapal kamipun bersebelahan ketika itu. Kapalnya melalukan perbaikan selama satu bulan lebih, sedangkan kapalku hanya dua minggu saja karena hanya mesin induk dan beberapa permesinan saja yang di perbaiki di bagian Mesin, sedangkan di bagian deck melakukan pengecatan ulang lambung saja, berbeda dengan kapal Arif yang memasang derek baru mungkin agar kapal selain bisa muat kontainer juga bisa difungsikan sebagai kapal Cargo, sehingga harus memiliki derek untuk memuat.
***

Sayang saat itu sudah di ujung senja sehingga ia harus pergi untuk berbelanja di dalam dept. store lagi pula akupun harus segera naik bis jurusan Pulo Gadung yang hanya sampai jam setengah enam saja melayani penumpang sampai terminal Pulo gadung jika lebih dari jam itu maka hanya sampai beberapa tempat saja karena harus masuk garasi.
Sepertinya saat itu aku naik bis yang terakhir karena ku mendengar kenek bis yang berteriak memberi tahu penumpang bahwa ini bis terakhir. Di perjalanan aku tak mengalami kesulitan meskipun harus berdesak desakan dengan penumpang lain, karena ini adalah kali kedua aku mengunjungi tempat tinggal sahabatku itu dengan menggunakan kendaraan umum. Hujan mulai turun dengan derasnya setelah melewati Pusat Pendidikan Pertamina, dimana penumpang banyak yang turun dengan terpaksa harus basah kuyup meskipun mengunakan payung, agin yang kencang membuat air hujan tetap dapat membasahi tubuh yang terlindung oleh payung.
Banjir di dalam terminal membuat bis hanya berhenti di luar terminal dan berbalik arah menuju garasi setelah semua penumpang turun. Untung hujan sudah mulai reda akupun meneruskan perjalanan menaiki mikrolet arah Kampung melayu. Karena ini perjalan kedua membuat perjalanan terasa sebentar. Kemudian aku turun persis di depan papan bertuliskan Pisangan Lama III. Dari situ sekitar lima puluh meter aku meneruskan dengan berjalan tak seperti kunjungan pertamaku, aku di jemput dengan sepeda motor oleh Istri Gunawan, namanya Pipih sedangkan kepanjangannya aku tidak tahu. Aku dan Pipih pernah bertemu di Tasikmalaya ketika Gunawan mengenalkannya padaku, sehingga saat dia yang menjemputku aku tak merasa canggung karena sudah sedikit akrab. Meskipun demikian ia mempersilakan ku memboncengnya dan ia hanya menjukan jalan karena aku belum tahu.
Kulirik jam tanganku menunjukan pukul setengah tujuh ketika aku memasuki halaman rumah Gunawan, Ku melihat sebuah motor dengan cat pilok hitam yang tak rapi di atas teras itu tandanya Gunawan pasti ada dirumah. Halaman yang tak begitu besar itu kini terlihat lebih rapi tanpa ada kayu kayu yang tak terpakai berserakan seperti pertama kali akau kesana. Untuk seukuran rumah di Jakarta halaman dua kali empat meter terbilang luas sayang Gunawan dan istrinya sepertinya tidak menyukai tanaman atau bunga menghiasi halamannya itu atau mungkin belum ada waktu saja karena ia baru beberapa bulan saja memempati rumah itu.
“Assalamu’alaikum” kataku sambil mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka tampak Istri Gunawan membukakan pintu, ia mengenakan kaos pendek berwarna hijau dengan lengan sebelah kanan di naikan khas pemain bulu tangkis Susi Susanti hendak servis, dengan celana pendek hitam berlogokan merk terkenal dunia.
“wa’alaikum salam.. a deny” sapanya dengan nada ceria sambil mencium tangan ku seperti adik kepada kakaknya.
“Akang .. ada a Deny “tambahnya sedikit berteriak memberi tahu Gunawan yang sedang makan di depan televisi. Kemudian ia mempersilakanku masuk dan langsung menyiapkan piring agar aku langsung menyantap masakanya bersama sama mereka. Setelah menyimpan bungkusan kaos kaki di bawah kursi akupun langsung menghampiri Gunawan yang sedang lahap. Sebelumnya Gunawan sudah ku telpon bahwa aku akan datang sehingga dia tidak surprise lagi atas kedatanganku, berbeda dengan pertama kali aku datang ia memeluku erat melepas rindu sambil memberondongku dengan pertanyaan yang bertubi - tubi. Kali ini Gunawan hanya menyalamiku sambil tetap bersila memegangi piring makanannya.
“ Silakan Den langsung aja cobain masakanya enggak enak pasti” katanya sambil melirik Istrinya yang kemudian meloyotinya karena diejek.
“Wah pasti enak nih karena sengaja aku nggak makan dulu coz tahu pasti akan di sajikan makanan made in Pipih di sini” kataku sambil mengambil piring yang telah di isi nasi oleh Pipih.
“Iya a Den silakan di jamin enak” Pipih menimpal dan menyodorkan lauknya.
“ Si akang mah bilangnya nggak enak mulu” tambahnya
“ Ah masa nggak enak sih orang kaya masakan restoran begini kok” kataku memuji.
“Tuh kan akang apa kata aDen” sambil mendelikan matanya ke Gunawan yang pura –pura tidak melihatnya.
Selesai makan dengan obrolan hangat dan ejekan – ejekan canda, Aku dan Gunawan pindah ke kursi. Aku duduk di kursi dengan ukuran lebih panjang menghadap ke pintu kamar , sedangkan Gunawan di kursi yang agak panjang membelakangi tempat kami makan tadi, di belakang jendela ada satu kursi lagi untuk satu orang, di tengah terdapat meja kaca sepertinya sengaja tak di tutupi karena di balik kaca banyak di selipkan foto –foto berukuran kecil terdiri dari foto – foto mesra dia dan istrinya, beberapa foto teman istrinya dan ada foto ku juga serta foto sahabat-sahabatnya yang juga sahabatku menghiasi meja itu.
Pipih yang sibuk membereskan tempat kami makan tadi masih sempat membuatkan kami kopi.
“Akang mau air putihnya?” tanyanya pada Gunawan. Pipih tetap bersikap mesra pada Gunawan meskipun selalu memjadi bahan ejekan Gunawan.
“Boleh , istriku yang cantik” jawab Gunawan, kali ini memuji istrinya yang segera membawakan segelas lagi air putih untuk suaminya tercinta. Kemudian ia melanjutkan membersihkan tampat makan.
Akupun kemudian menceritakan bahwa aku akan berangkat besok ke Barazil dan singgah di Paris setelah sebelumnya transit di Singapura.
“A Den ikut dong ke Paris” teriak Pipih dari dapur. Rupanya ia mendengarkan pembicaraan kami karena memang rumah yang sederhana itu letak dapur dan ruang tamu hanya berjarak beberapa meter saja. Ruang tamu dan ruang keluarga menjadi satu dalam ruang persegi panjang itu hanya di batasi oleh kursi yang konon menjadi kursi pelaminan saat pesta pernikahan mereka. Sedangkan dapur di pisah oleh tembok dari ruang TV di belakang dapur berbatasan dengan kamar mandi, di samping kamar mandi ada pintu keluar halaman samping yang lebih mirip lorong atau gang karena tertutup tembok pembatas rumah tetangga, sedangkan ke depanpun tertutup sehingga hanya di fungsikan untuk menjemur pakaian. Rumah mungil bercat putih itu memiliki dua kamar tidur yang berukuran sedang. Suasana yang sepi karena jarang ada anak kecil atau orang lewat di depan rumah di tambah suhu udara yang sejuk sangat nyaman untuk sepasang suami istri yang belum lama menikah itu. Perabotan yang katanya bawa dari Tasikmalaya itu telah melengkapi isi rumah, tinggal lemari pendingin aja yang masih bingung mau pilih merek apa jawab Gunawan ketika ku tanya.
“Kahade ah sing ati ati, jam sabaraha isukan berangkatna?” tanya Gunawan menanyakan jadwal keberangkatan pesawat dengan bahasa Sunda.
“Jam tujuh malam dari Sukarno-Hatta” jawabku dengan bahasa indonesia karena kulihat Pipih menghampiri kami setelah selesai bers-beres, aku tidak enak jika ia mendengar bahasa Sundaku yang kasar .
“a Den naik pesawat awat” tanya Pipih ikut menyambung. Akupun menjelaskan bahwa dari Jakarta ke Singapura naik Garuda Indonesia, sedangkan dari singapur ke Paris terus ke Rio naik Franc Air Line.
“Jadi sabaraha jam totalna perjalan” tanya Gunawan kembali dengan bahasa Sunda. Akupun menjawab dengan bahasa Indonesia bahwa akan memakan waktu kurang lebih sehari sampai Rio Dejeinero Brazil.
“Oiya Akang tadi waktu Akang ma A Den sholat si A Guruh nelpon katanya nggak bisa kesini” kata Pipih kepada gunawan, tiba tiba ia teringat.
“Iya tadi juga di jalan ia sms ke Aden katanya ia malam ini akan pulang ke Tasikmalaya karena Kakaknya akan tunangan sehingga ia kudu mempersiapkan segala sesuatunya” tambahku.
“Si menk juga ngomong nya mau kesini sama Istrinya kalau hujan sudah reda” Gunawan menimpal sambil mengambil Hpnya untuk menelpon kembali Ayi dan Istrinya yang katanya akan datang malam itu. Menk adalah panggilan untuk Ayi.
Ayi dan Guruh adalah sahabat kami juga. Kami berempat Aku,Raden Guruh, Ayi,dan Gunawan yang di singkat DRAG adalah empat sahabat yang selalu bersama sama kemanapun ketika kami sekolah dulu, sampai sampai teman kami yang lain memanggil kami Barudak Opat yang artinya Empat Orang. Sehingga jika kami hanya bertiga akan di tanya “mana satu lagi kok hanya bertiga” padahal kami memiliki banyak teman dan sahabat yang akrab lainnya yang selalu bersama seperti Roby yang di panggil Rohenk, si Ogo Yuki, Gempur, Eet, Yunus, Yudho, Oboz, dan banyak lagi teman yang mendapat nama panggilan aneh aneh.